Saribu limo ratuih, eh indak, saribu se agiah!

Judul diatas masih dalam bahasa Minang, jadi kalau diartikan akan menjadi:

Seribu lima ratus, eh nggak, beri aja seribu!

Kata-kata tersebut saya dengar tadi sore ketika keluar rumah karena sudah lima hari belakangan ini dodot hibernasi. Ucapan tersebut terlontar dari salah seorang ibu-ibu kepada suaminya yang naik ojek teman suaminya, jadi intinya si suami mau bayar tapi duitnya keburu habis, jadi minta duit dong ama si istri. Si istri pun dengan nada bercanda ato serius saya tidak mengerti, namun yang jelas si tukang ojek yang teman suaminya tersebut kurang enak melihat istri dari temannya tersebut (kurang enak, kurang manis, nggak seperti coklat strowberry).

Perang kata terus berkecamuk, dan saya tidak melihat mereka namun menghindar dan terawa, Tertawa terkikik-kikik, gimana kagak, di istri dengan suara cempreng teriak:

Saribu se agiah nyo, kan dakek nyo ma!

Read the rest of this entry »