<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>House &#38; Home &#187; open book</title>
	<atom:link href="http://blog.myladokutu.org/tag/open-book/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.myladokutu.org</link>
	<description>House &#38; Home, bringing you the latest home improvements as well as property market news with family home in mind.</description>
	<lastBuildDate>Wed, 25 Jan 2012 04:43:29 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>UAS hanya sebatas formalitas</title>
		<link>http://blog.myladokutu.org/2008/01/16/uas-hanya-sebatas-formalitas/</link>
		<comments>http://blog.myladokutu.org/2008/01/16/uas-hanya-sebatas-formalitas/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Jan 2008 00:48:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aaron Holbert</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita kampus]]></category>
		<category><![CDATA[dosen]]></category>
		<category><![CDATA[jurusan]]></category>
		<category><![CDATA[kampus]]></category>
		<category><![CDATA[matakuliah]]></category>
		<category><![CDATA[open book]]></category>
		<category><![CDATA[UAS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.myladokutu.org/?p=26</guid>
		<description><![CDATA[UAS pasti datang diakhir semester walaupun tidak diundang dan UAS kita bisa melihat siapa saja yang persiapannya matang dalam semester yang akan dilewati tersebut. Namun saya melihat UAS hanya sebagai sebuah formalitas dan kenapa harus dilaksanakan? Lebih baik tanpa UAS dan hanya tugas saja. UAS dan UAS dan UAS. Banyak cerita dari UAS tersebut. Sampai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">UAS pasti datang diakhir semester walaupun tidak diundang dan UAS kita bisa melihat siapa saja yang persiapannya matang dalam semester yang akan dilewati tersebut. Namun saya melihat UAS hanya sebagai sebuah formalitas dan kenapa harus dilaksanakan? Lebih baik tanpa UAS dan hanya tugas saja.</p>
<p align="justify">UAS dan UAS dan UAS. Banyak cerita dari UAS tersebut. Sampai pada saat UAS pun saya menderita sakit dan bela-belain ke kampus hanya untuk UAS. Dan akhirnya yach&#8230; pulangpun dianter ama teman. Banyak duka dan suka dari UAS, namun di semester V ini UAS yang saya hadapi semua bisa dikatakan UAS Open Book (Open Source kali). Bahkan soal yang berstatus &#8220;Close Book&#8221; pun berubah menjadi &#8220;Open Book&#8221;. Namun yang terpenting bagi teman-teman ketika itu adalah nilai di Lembaran Harian Semester aman-aman saja dan lebih mengambil resiko ketika UAS.</p>
<p align="justify">Hari pertama UAS bagi saya dimulai dari hari Selasa sampai hari Sabtu dan dalam minggu ini cuman UAS pelengkap aja alias UAS untuk memenuhi nilai seperti presentasi laporan dan sebagainya. Hari pertama UAS soal sudah berstatus &#8220;Open Book&#8221; walaupun mata kuliah pada saat itu termasuk dalam kategori berat yakni hitung-hitungan dan hari kedua juga sama, hitung-hitungan juga. Hari ke  tiga barulah teori. Nah dihari ketiga inilah soal berstatus &#8220;Close Book&#8221;. Saking takutnya banyak teman-teman yang memilih jalur aman yakni dengan seleksi penguji atau pengawas ujian. Di incar pengawas yang terbaik menurut mereka, saya pun ikutan dari pada tewas ntar sewaktu ujian dan kagak belajar lagi malam harinya (kalau pun belajar nggak dapet ama sekali apa yang dibelajarin, jadi lebih baik ngeblog). Nah kebetulan si bapak dosen yang mengajar mata kuliah tersebut tidak datang ketika UAS berlangsung jadi semuanya aman dan benar-benar aman. UAS untuk mata kuliah yang atu ini dilakukan di tiga ruangan berbeda dengan pengawas yang ketiduran semua. Bener-bener ketiduran, ada yang asik memerika tugas, ada yang bener-bener sama dengan tidak mengawas dan ada yang ngantuk berat. Saya berada dilokal yang pengawasnya bener-bener ngantuk berat, jadi ya&#8230;. ambil resiko aja dengan &#8220;Open Book&#8221; diatas meja. Dari ketiga ruangan tersebut tidak ada yang mematuhi perintah atau status dari soal mereka semua mengambil jalan yang terbaik bagi mereka. Jadi pada hari yang satu ini bisa dikatakan sama sekali tidak UAS namun di UAS-kan.</p>
<p align="justify"><span id="more-26"></span>Sungguh berbeda dengan beberapa kampus yang saya ketahui. Dikampus yang satunya lagi alias kampus tetangga mungkin sebaliknya. Dan saya justru terkejut ketika berkunjung ke ITB semester lalu. Mahasiswanya nurut dan memang ada keinginan untuk belajar berbeda dengan kampus tempat saya kuliah sekarang ini. Kalau tidak salah di ITB ketika itu sedang ada ujian (tidak UAS, tapi pokoknya ujian gitu). Pengawasnya tidak ada, kalau pun ada lokalnya yang bermasalah, lokalnya kecil sampai berjubel ke luar ruangan. Namun yang berada diluar asik ngerjakan soal walaupun tas dipangkunya. Mungkin kondisi serupa akan menjadi kebalikannya dikampus saya. Selagi masih bisa open book, yo silahkan dibuka.</p>
<p align="justify">Nah saya jadi mau bertanya, kalau melihat kondisi tersebut kenapa UAS masih dijalankan? Bukankah UAS=tidak UAS? Kalau pun memang demikian UAS hanya menjadi formalitas belaka alias sebagai pemberi kabar ke pihak rektorat kalau sudah UAS di jurusan yang atu. Pihak jurusan juga sudah mengetahuinya mungkin karena jurusan saya terkenal akan kebaikan hati dosennya kali yach. Masih di fakultas yang sama, jurusan yang dosennya paling baik adalah jurusan yang saya ambil sekarang ini dan jurusan yang paling kiler dosennya adalah jurusan tetangga yaitu jurusan Elektro. JAdi berbanding terbaik atau dibalikkan?</p>
<p align="justify">Kalau cuman sekedar formalitas kenapa UAS dilangsungkan, mahasiswa sebaiknya diberikan tugas lapangan aja. Survei misalnya dan hasil surveinya tersebut harus dipertanggung jawabkan, bukan asal-asalan survei saja. Banyak yang asal-asalan survei, bahkan tidak pergi survei pun dosen mengetahuinya dan untuk laporannya mahasiswa yang atu ini mengcopy laporan senior mereka. Saya mah kagak berani, terlalu beresiko kalau dipikir-pikir.</p>
<p align="justify">Jadi, UAS atau tidak UAS sama saja dijurusan saya. Nah apakah ketika UAS kemaren anda berkelakuan sama dengan yang saya alami atau bener-bener belajar dan kalau pun ada kesemapatan anda tidak melakukannya (open book misalnya)?.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.myladokutu.org/2008/01/16/uas-hanya-sebatas-formalitas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>32</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hari pertama UAS, sakit kepala tak tertahankan</title>
		<link>http://blog.myladokutu.org/2008/01/10/hari-pertama-uas-sakit-kepala-tak-tertahankan/</link>
		<comments>http://blog.myladokutu.org/2008/01/10/hari-pertama-uas-sakit-kepala-tak-tertahankan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Jan 2008 02:08:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aaron Holbert</dc:creator>
				<category><![CDATA[dodot]]></category>
		<category><![CDATA[dosen]]></category>
		<category><![CDATA[jurusan]]></category>
		<category><![CDATA[kampus]]></category>
		<category><![CDATA[matakuliah]]></category>
		<category><![CDATA[open book]]></category>
		<category><![CDATA[UAS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.myladokutu.org/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[UAS sudah datang bertepatan dengan minggu kedua setelah perayaan taon baru 2008. Dan kali ini saya sangat bersyukur karena sudah berada disemester V dari VI semester yang harus saya selesaikan untuk mendapatkan gelar A.Md bidang teknik mesin, dan yang paling bersyukur lagi adalah untuk semester depan matakuliah yang belum saya ambil hanya tinggal 4 sks [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">UAS sudah datang bertepatan dengan minggu kedua setelah perayaan taon baru 2008. Dan kali ini saya sangat bersyukur karena sudah berada disemester V dari VI semester yang harus saya selesaikan untuk mendapatkan gelar A.Md bidang teknik mesin, dan yang paling bersyukur lagi adalah untuk semester depan matakuliah yang belum saya ambil hanya tinggal 4 sks dan itu semua adalah matakuliah tingkat 1 semua. Ndak kebayang bagaimana suasana kuliah pada semester VI nanti dengan mahasiswa angkatan 2007 :)</p>
<p align="justify">UAS dikampus sudah dimulai sejak hari Senin 7 Januari 2008 dan jadwal UAS saya hanya hari Selasa, Rabu, Jum&#8217;at dan Sabtu, hanya empat hari dan setelah itu santai dirumah sambil nyelesaikan tugas akhir yang deadlinenya bulan ini.</p>
<p align="justify">Tak disangka-sangka, pada hari Senin malam sakit singgah ke rumah. Sakit kepala dan badang meriang. Ndak tau kenapa yang jelas ini adalah sakit pertama di taon baru dan sakit ini adalah sakit yang biasa saya dapatkan. Saya tidak mengobatinya ke dokter atau ke puskesman lantaran tidak akan sembuh yang parahnya adalah efek samping dari obat yang dikasih. Setahu saya, sakit yang sudah 5 kali saya dapatkan pada taon kemaren ini dan pertama ditaon baru ini adalah sakit karena dunia ketiga, kata orang pinter dan emang iya sech (percaya kagak percaya). Ceritanya begini:</p>
<p align="justify">Setiap sore alias setelah mendarat dirumah sehabis dari kampus saya ngebatu bundo kerja dan baru kelar habis magrib dan mandinya selalu pukul 19.00 WIB. Nah, sewaktu perjalanan pulang ke rumah itulah selalu mendapatkan apa yang orang Minang bilang &#8220;Tasapo&#8221; jika di Indonesiakan &#8220;Disapa&#8221;. Orang Minang percaya kalau kita melongkahi (katakanlah menyeberang) selokan kecil pada saat magrib dimana selokan tersebut tidak diberi papan sebagai jembatannya maka kita harus minta permisi. Karena disetiap selokan kecil atau galian ada &#8220;hal misti&#8221; yang bisa bikin: kepala sakit serasa mau pecah, deman, badang meriang, kagak bisa berdiri atau jalan, dan yang kagak bisa makan apa yang dimakan hambar kagak ada rasa. Tengah malamnya saya sudah merasakan akan terkena hal tersebut dan ke esokan harinya tepatnya hari Selasa emang kejadian, kepala serasa mau pecah sampai ke ubun-ubun dan badang meriang + kagak bisa makan, apa yang dimakan rasanya hambar. Bahkan bundo memasakkan dedeng balado kok rasanya hambar, dedengna aja hambar apalagi lado (sambal) nya yang pedas kagak terasa sama sekali.</p>
<p align="justify"><span id="more-24"></span>Hari Selasa adalah hari pertama UAS dan saya dapat jadwal ujian pukul 13.30 dan ujian pertama hari itu adalah Perpindahan Panas. Sungguh hari yang melelahkan. Ujian hari itu penuh dengan perhitungan dan kepala serasa mau pecah lagi!. Namun saya tidak ambil pusing dalam waktu 45 menit saya sudah berhasil memecahkan misteri dibalik soal tersebut dan langsung pulang serta tak lupa meninggalkan kertas buram berisi jawaban untuk para pengikut Dodot (maklum anak Mesin). Setibanya dirumah, langsung tidur&#8230;. Perut lapar, haus lagi&#8230; teringat ada Pepsi dikulkas, tegukan yang pertama kok berasa banget, tegukan yang kedua tambah berasa, diteguk atu lagi, kesimpulannya kok pepsi terasa rasanya dibanding dengan dendeng balado?</p>
<p align="justify">Pukul 16.10 saya nelpon bundo untuk mintain obat ama pak Jangguik (kalau diIndonesiakan= Pak Jenggot). Pak Jangguik atau pak Jenggot tinggal dekat rumah dan obatnya terbilang sangat ampuh dari pada resep dokter. Dan dia buka praktek pada malam hari, kebanyakan pasiennya adalah mantan pasien dari RS DR. M Djamil Padang yang tidak terobati. Malahan ada yang lumpuh bisa berjalan normal kembali loh. Malam harinya barulah bundo mendapatkan obat dan memberikan obatnya kepada saya dan memang benar taksiran saya, obatnya bekerja dan sakit kepala yang serasa mau pecah itu pun hilang namun penyakit baru pun datang yaitu puyeng kagak karuan.</p>
<p align="justify">Tak berhenti mencari obat sampai disitu. Didekat rumah juga ada yang bisa ngebantu. Dia pun juga mengatakan hal yang sama mengenai penyebab sakit yang saya alami, namun ini lebih mendetail. Katanya, ketika adzan magrib saya melongkahi galian selokan didekat perumahan yang belum selesai, seingat saya cuman saya melintas didepan rumah kosong. Tapi obatnya manjur, sampai sekarang pun sakitnya udah mulai hilang sedikit demi sedikit ketimbang kemaren benar-benar puyeng. Obat yang kedua ini diberikan oleh tetangga. Dia memiliki &#8220;Inyiak&#8221; (bahasa indonesianya saya tidak tau tapi bahasa indonesia tidak bakunya adalah harimau jadi-jadian) yang selalu menolongnya dan membantu kemenakannya tersebut. Mulai dari mencari dompet yang kececer (malahan dia tau siapa dan dimana orang yang menemukan dompet tersebut) dan salah satunya adalah sakit yang saya alami.</p>
<p align="justify">Percaya atau tidak klenik, tahayul, mungkin tidak bisa lepas dari rakyat Indonesia. Dibalik itu semua kita patut bersyukur karena ada yang bisa membantu untuk menjelaskan paa yang terjadi dan kemungkinan akan terjadi dan bisa disembuhkan.</p>
<p align="justify">Di negeri Minang sendiri banyak hal yang bisa diceritakan. Mulai dari penyakit kiriman (bukan santet) sampai dengan hal-hal aneh lainnya. Bahkan ada sebuah daerah yang se Sumatra Barat mengenalnya dengan kampung dukun jadi kelau kesana harus jaga sikap dari pada tidak pulang ke rumah.</p>
<p align="justify">Nah saya mau nanya, apakah anda pernah mengalami hal yang saya dengan saya? Kalau pernah, anda mengobatinya dengan apa?</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.myladokutu.org/2008/01/10/hari-pertama-uas-sakit-kepala-tak-tertahankan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

