<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>House &#38; Home &#187; Mahasiswa</title>
	<atom:link href="http://blog.myladokutu.org/tag/mahasiswa/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.myladokutu.org</link>
	<description>House &#38; Home, bringing you the latest home improvements as well as property market news with family home in mind.</description>
	<lastBuildDate>Wed, 25 Jan 2012 04:43:29 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Kapok bag. 2: Bali</title>
		<link>http://blog.myladokutu.org/2008/02/07/kapok-bag-2-bali/</link>
		<comments>http://blog.myladokutu.org/2008/02/07/kapok-bag-2-bali/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Feb 2008 00:52:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aaron Holbert</dc:creator>
				<category><![CDATA[dodot]]></category>
		<category><![CDATA[bali]]></category>
		<category><![CDATA[denpasar]]></category>
		<category><![CDATA[gilimanuk]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kunjungan industri]]></category>
		<category><![CDATA[ladokutu]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[pantai kuta]]></category>
		<category><![CDATA[rombongan UNP]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.myladokutu.org/?p=45</guid>
		<description><![CDATA[Sebelumnya saya pernah menulis mengenai kisah kapok di Jakarta dan kini kisah kapokdi Pulau Bali. Berapa kilo dari Padang ya? Waduh jauh juga dodot pergi main-main. Perjalanan dari Bandung rencanya langsung ke UGM namun karena ada masalah dengan waktu mendarat nantinya di Padang dan juga karena rombongan yang dodot pimpin kebetulan pake mobil kampus jadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Sebelumnya saya pernah menulis mengenai <a href="http://blog.myladokutu.org/?p=38" target="_blank">kisah kapok di Jakarta </a>dan kini kisah kapokdi Pulau Bali. Berapa kilo dari Padang ya? Waduh jauh juga dodot pergi main-main.</p>
<p align="justify">Perjalanan dari Bandung rencanya langsung ke UGM namun karena ada masalah dengan waktu mendarat nantinya di Padang dan juga karena rombongan yang dodot pimpin kebetulan pake mobil kampus jadi terpaksa deh kunjungan ke UGM di batalkan dan dodot beserta rombongan langsung menuju tujuan terakhir yaitu Pantai Kuta.</p>
<p align="justify">Cukup lama perjalanan dari Bandung &#8211; Surabaya -Bali, kagak tau berapa jam, namun bikin kepengen tidur dikasur empuk. Penyeberangan dari Ketepang &#8211; Gilimanuk emang bikin kesal begitu juga dengan penyeberangan dari Bakahueni &#8211; Merak. Emang &#8220;Indonesia&#8221; punya. Nunggu beberapa jam baru masuk ke kapal penyeberangan yang pengapnya minta ampun dan bising.</p>
<p align="justify">Dodot beserta rombongan mendarat di Bali tepat dini hari, kagak tau jam berapa, namun yang jelas disana masih dingin dan gelap serta ada petugas pelabuhan yang minta surat jalan ditambah dengan &#8220;resep-resepnya&#8221;, kaget juga pertamanya ketika tuh bapak-bapak minta &#8220;resep&#8221;, dek gini.. gini&#8230; terpaksa deh. Emang &#8220;Indonesia punya&#8221;.</p>
<p align="justify">Sekarang perjalanan dari Gilimanuk menuju Denpasar yang bikin lelah, tetap kekeh rindu tidur dikasur empuk yang lagi nganggur dirumah. Sesampainya di Denpasar, perut lapar, penginapan belum dicari, si guide belum datang, keadaan ketika itu seperti anak ayam lepas dari induknya lias berpencar entah kemana yang jelas harus balik kalau kagak tinggal aja di Bali.</p>
<p align="justify">Bahkan di Bali pun tetap rumah makan Padang yang dicari rombongan dari Padang ini. Dodot sih bosan, tapi apa adaya. Ketika sampai dirumah makan tersebut, dodot dan <a href="http://www.kucingair.com" target="_blank">kucingair</a> sudah sangat kelapangan eh ternyata nasi dan sambal mereka sudah habis sama teman-teman yang duluan datang ketempat tersebut, terpaksa deh puasa sampai menemukan tempat makan lainnya. Sambil menanti adanya keajaiban, datanglah seorang yang menanyakan, Dodotnya mana ya? Eh ternyata dialah guide kami ketika itu, dan emang bikin parah.</p>
<p align="justify"><span id="more-45"></span>Parahnya dia justru mengajak ke tempat-tempat yang:</p>
<ol>
<li>Panas (Padang udah Panas, kok jauh-jauh ke Bali disuguhi tempat panas?)</li>
<li>Pantai (Laut lagi, laut lagi)</li>
</ol>
<p align="justity">Baru dua tujuan diatas yang baru dikunjungi yang disarankan oleh guide tersebu, malam harinya kami berunding untuk tidak memakai jasa guide tersebut karena:</p>
<ol>
<li>Kenapa tipu (katanya pulau penyu, kok penyu-nya cuman tiga ekor dan ongkos perahunya mahal, untung dodot tidak kena tipu, sebagian teman-teman yang ketinggalan kebetulan ketemua orang Padang yang jalan-jalan kesana dan menyarankan untuk mencari jasa perahu lainnya dan kami cuman membayar seperempat dari jasa yang ditawarkan oleh guide tersebut)</li>
<li>Terlalu kapok untuk mengikuti guide tersebut</li>
<li>Orang Padang kena tipu, orang Padang kenapa tipu&#8230;</li>
</ol>
<p align="justify">Tak hanya sampai disitu, ketika mau ke Pantai Kuta, mobil kampus diparkir di Central (nama lengkapnya apa ya), sebelum ke Kuta kami singgalh di Joger, buset dah nguras kantong, ternyata kisah yang bikin kapok dan kesal adalah ketika mau berangkat ke pantai Kuta dengan menggunakan mobil biru. Mobilnya kecil, tapi&#8230; perlakuannya tidak sopan, masak bangku yang muat tiga orang diisi tiga bahkan empat orang. Dalam perjalanan semuanya bercarut marut dan mengeluarkan kata-kata kotor dalam bahasa Minang tentunya, namun dodot ketika itu cuman tertawa terbahak-bahak sampai sakit perut, kalau diingat-ingat emang bikin ketawa lagi.</p>
<p align="justify">Ke esokan harinya, barulah orang Minang tulen yang menjadi guide kami. Kami diajak ke tempat-tempat seperti Garuda Wisnu Kencana, pasar Sukowati, dan masih banyak lagi.</p>
<p align="justify">Jadi tips kisah kapok dibali bagian 2 ini adalah:</p>
<ol>
<li>Jangan percaya ama guide, bisa-bisa kantong anda dikuras habis, untung dodot bisa selamat dari rayuan di guide tersebut.</li>
<li>Kalau mau ke pantai kuta dari Joger dodot menyarankan untuk jalan kaki aja kan sehat, jaraknya juga tidak terlalu jauh, tapi tetap bikin sesak nafas.</li>
<li>Carilah penginapan di daerah perkotaan, jangan didaerah pinggiran walaupun murah, ternyata masih banyak juga penginapan murah didaerah yang bagus dan dipusat kota lagi, kan bisa mejeng malem-malem.</li>
<li>Ketika di Bali anda bisa merasakan sendiri.</li>
</ol>
<p align="justify">Bagi yang mau melihat hasil jepretan ketika di Bali silahkan klik link berikut ini, maaf picnya kagak bisa dimasukin semua di sini. <a href="http://www.flickr.com/photos/ladokutu/" target="_blank">Klik disini </a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.myladokutu.org/2008/02/07/kapok-bag-2-bali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mahasiswa berpolitik? Hmmm&#8230;</title>
		<link>http://blog.myladokutu.org/2008/01/19/mahasiswa-berpolitik-hmmm/</link>
		<comments>http://blog.myladokutu.org/2008/01/19/mahasiswa-berpolitik-hmmm/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Jan 2008 14:39:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aaron Holbert</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita kampus]]></category>
		<category><![CDATA[dosen]]></category>
		<category><![CDATA[kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[rektorat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.myladokutu.org/?p=31</guid>
		<description><![CDATA[Rasanya kepengen juga nulis tentang yang atu ini. Tulisan yang pernah dan diketahui keberadaannya dilingkungan kampus. Kampus emang penuh dengan cerita-cerita lucu, aneh, menggelitik, komplit dech pokoknya. Namun dari sekian banyak cerita, si pembuat cerita sama seperti trouble maker bagi cerita atau kisah yang dia bikin sendiri. Mahasiswa berpolitik? Politik ato nggak tetap mahasiswa dikatakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Rasanya kepengen juga nulis tentang yang atu ini. Tulisan yang pernah dan diketahui keberadaannya dilingkungan kampus. Kampus emang penuh dengan cerita-cerita lucu, aneh, menggelitik, komplit dech pokoknya. Namun dari sekian banyak cerita, si pembuat cerita sama seperti trouble maker bagi cerita atau kisah yang dia bikin sendiri.</p>
<p align="justify">Mahasiswa berpolitik? Politik ato nggak tetap mahasiswa dikatakan berpolitik atau sok berpolitik. Bagaimana tidak, mereka menuntut kejelasan dari hal-hal yang tidak lazim, seperti menuntut koruptor, mempertahankan sebidang tanah (memang sih halal karena yang dipertahankannya tersebut adalah lahan publik) dan masih banyak lagi. Kalau ditelisik memang itu bukanlah bidang mereka, namun kenapa mereka ikut campur? Ada apa ini&#8230;</p>
<p align="justify">Permainan politik tidak hanya berbekas disana, dilingkungan kampus sendiri banyak dosen dan civitas akademika yang bosan dengan ulah &#8220;mereka&#8221;, diantaranya tentulah pihak Dekanan dan Rektorat yang selalu dihujat dan ditentang. Mereka menentang hal-hal yang kalau saya pikir-pikir hal tersebut sudah pasti dan memang akan diterapkan dilingkungan kampus yang notabenenya itu adalah peraturan baru ditahun ajaran baru. Namun kenapa hal tersebut mereka tolak? Kenapa? Tak hanya itu, &#8220;mereka&#8221; juga ikut memantau intern kampus seperti ketika pihak rektorat mengadakan proyek seperti pembuatan atau peremajaan fasilitas kampus, kelompok yang nomor pertama mengacungkan tangan untuk menentang atau mempertanyakan adalah &#8220;mereka&#8221; para mahasiswa dengan politiknya sendiri. Memang selaku masyarakat civitas akademika kita harus melakukan hal tersebut lalu bagaimana dengan status manusia berpendidikan yang kita pegang? Saya pernah mendengar perbincangan antara dua orang profesor dijurusan tempat saya kuliah, yang satu masternya dibidang pendidikan alias tamatan dalam negeri, yang atunya lagi master dalam bidang teknik dan pendidikan alias tamatan USI (US &amp; Indonesia). Intinya mereka mengatakan:</p>
<blockquote>
<p align="justify"> <span id="more-31"></span>&#8220;Semakin berpendidikan dan tinggi dejarat pendidikan seseorang orang tersebut tidak akan cepat marah, dia justru akan dengan cepat meredam emosi yang dialaminya [...] perkataannya pun juga tak menyinggung bagi yang mendengarkan.&#8221;</p>
</blockquote>
<p align="justify">Dikampus ada beberapa tempat yang dijadikan sebagai gudang nya aktifitas berpolitik bagi mahasiswa diantaranya MPM, BEM-U, BEM-F, &amp; HIMA. Nah yang menempati urutan puncak dalam hal politik paling keras dan paling dikecam oleh pihak dekanan dan rektorat adalah MPM. Setiap kali Rektorat mengeluarkan peraturan baru mereka selalu diundang bahkan pertentangan selalu terjadi disetiap rapat. Mahasiswa menggebrak meja? Sopankah? Namun itu yang terjadi.</p>
<p align="justify">Mahasiswa memang tak sepantasnya melakukan hal-hal atau kegiatan berpolitik yang terlampau. Namun ada sebagian yang mencari-cari kesempatan untuk hal ini. Entah bosan atau muak dengan perlakuan pihak kampus atau entah bagaimana, mereka melakukan pengerusakan dan keceman-kecaman serta tentangan-tentangan terhadap pihak kampus. Memang tak jelas apa yang mendalangi semua itu. Bahkan pernah saya dapati salah seorang teman yang memang ikut-ikutan berpolitik di mpm justru tidak dihargai ketika dia berkunjung ke Dekanan untuk mengurus beberapa surat untuk keperluan perkuliahannya. Adilkah? Ketika itu, saya cuman terheran-heran, kenapa dengan bapak ini? Setelah diselidik ternyata, teman saya ini pernah menentang pihak dekanan dalam rapat di rektorat mengenai Penerimaan Mahasiswa Baru dikampus, akibatnya ya&#8230;. bisa ditebak kan?</p>
<p align="justify">Berpolitik atau nggak tekanan datang silih dengan berganti. Selain tekanan dari teman-teman dikampus juga tekanan dari para dosen. Untung saya nggak pernah ikutan dengan yang demikian, karena membosankan, memuakkan, dan ngabisin waktu, mendingan hunting buku dan ngeblog.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.myladokutu.org/2008/01/19/mahasiswa-berpolitik-hmmm/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

