Kapok bag. 2: Bali

Sebelumnya saya pernah menulis mengenai kisah kapok di Jakarta dan kini kisah kapokdi Pulau Bali. Berapa kilo dari Padang ya? Waduh jauh juga dodot pergi main-main.

Perjalanan dari Bandung rencanya langsung ke UGM namun karena ada masalah dengan waktu mendarat nantinya di Padang dan juga karena rombongan yang dodot pimpin kebetulan pake mobil kampus jadi terpaksa deh kunjungan ke UGM di batalkan dan dodot beserta rombongan langsung menuju tujuan terakhir yaitu Pantai Kuta.

Cukup lama perjalanan dari Bandung - Surabaya -Bali, kagak tau berapa jam, namun bikin kepengen tidur dikasur empuk. Penyeberangan dari Ketepang - Gilimanuk emang bikin kesal begitu juga dengan penyeberangan dari Bakahueni - Merak. Emang “Indonesia” punya. Nunggu beberapa jam baru masuk ke kapal penyeberangan yang pengapnya minta ampun dan bising.

Dodot beserta rombongan mendarat di Bali tepat dini hari, kagak tau jam berapa, namun yang jelas disana masih dingin dan gelap serta ada petugas pelabuhan yang minta surat jalan ditambah dengan “resep-resepnya”, kaget juga pertamanya ketika tuh bapak-bapak minta “resep”, dek gini.. gini… terpaksa deh. Emang “Indonesia punya”.

Sekarang perjalanan dari Gilimanuk menuju Denpasar yang bikin lelah, tetap kekeh rindu tidur dikasur empuk yang lagi nganggur dirumah. Sesampainya di Denpasar, perut lapar, penginapan belum dicari, si guide belum datang, keadaan ketika itu seperti anak ayam lepas dari induknya lias berpencar entah kemana yang jelas harus balik kalau kagak tinggal aja di Bali.

Bahkan di Bali pun tetap rumah makan Padang yang dicari rombongan dari Padang ini. Dodot sih bosan, tapi apa adaya. Ketika sampai dirumah makan tersebut, dodot dan kucingair sudah sangat kelapangan eh ternyata nasi dan sambal mereka sudah habis sama teman-teman yang duluan datang ketempat tersebut, terpaksa deh puasa sampai menemukan tempat makan lainnya. Sambil menanti adanya keajaiban, datanglah seorang yang menanyakan, Dodotnya mana ya? Eh ternyata dialah guide kami ketika itu, dan emang bikin parah.

Read the rest of this entry »

Mahasiswa berpolitik? Hmmm…

Rasanya kepengen juga nulis tentang yang atu ini. Tulisan yang pernah dan diketahui keberadaannya dilingkungan kampus. Kampus emang penuh dengan cerita-cerita lucu, aneh, menggelitik, komplit dech pokoknya. Namun dari sekian banyak cerita, si pembuat cerita sama seperti trouble maker bagi cerita atau kisah yang dia bikin sendiri.

Mahasiswa berpolitik? Politik ato nggak tetap mahasiswa dikatakan berpolitik atau sok berpolitik. Bagaimana tidak, mereka menuntut kejelasan dari hal-hal yang tidak lazim, seperti menuntut koruptor, mempertahankan sebidang tanah (memang sih halal karena yang dipertahankannya tersebut adalah lahan publik) dan masih banyak lagi. Kalau ditelisik memang itu bukanlah bidang mereka, namun kenapa mereka ikut campur? Ada apa ini…

Permainan politik tidak hanya berbekas disana, dilingkungan kampus sendiri banyak dosen dan civitas akademika yang bosan dengan ulah “mereka”, diantaranya tentulah pihak Dekanan dan Rektorat yang selalu dihujat dan ditentang. Mereka menentang hal-hal yang kalau saya pikir-pikir hal tersebut sudah pasti dan memang akan diterapkan dilingkungan kampus yang notabenenya itu adalah peraturan baru ditahun ajaran baru. Namun kenapa hal tersebut mereka tolak? Kenapa? Tak hanya itu, “mereka” juga ikut memantau intern kampus seperti ketika pihak rektorat mengadakan proyek seperti pembuatan atau peremajaan fasilitas kampus, kelompok yang nomor pertama mengacungkan tangan untuk menentang atau mempertanyakan adalah “mereka” para mahasiswa dengan politiknya sendiri. Memang selaku masyarakat civitas akademika kita harus melakukan hal tersebut lalu bagaimana dengan status manusia berpendidikan yang kita pegang? Saya pernah mendengar perbincangan antara dua orang profesor dijurusan tempat saya kuliah, yang satu masternya dibidang pendidikan alias tamatan dalam negeri, yang atunya lagi master dalam bidang teknik dan pendidikan alias tamatan USI (US & Indonesia). Intinya mereka mengatakan:

  Read the rest of this entry »